Breaking News
Loading...
Sabtu, 25 Januari 2014

Info Post

Bagi Hadi Utomo (50) warga desa Pecangaan Kulon Kecamatan Pecangaan bekerja bukanlah untuk mencari kekayaan. Namun hanyalah untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Oleh karena itu meskipun tergolong pas-pasan dari segi penghasilan namun ucap syukur setiap hari terus terucapkan.

"Meski dipandang sebelah mata kerja sebagai tukang parkir. Namun saya tidak mempedulikan yang penting halal dan bisa membiayai anak-anak sekolah dan juga belanja di rumah," aku Hadi Utomo pada FORMASS Senin (23/12).

Hadi utomo mengatakan kerja sebagai tukang parkir sudah dijalani lebih dari 10 tahun. Dulu sebelum markir ia bekerja sebagai karyawan pabrik Aqua di Pudak Payung Semarang. Namun setelah berumah tangga iapun beralih profesi sebagai tukang parkir.

Awal terjun sebagai tukang parkir memang ada rasa malu . Tetapi rasa malu itupun disingkirkan jauh-jauh demi menghidupi anak dan istrinya. Setelah beberapa bulan iapun telah terbiasa dan enjoy saja. Meskipun harus mengumpulkan uang recehan tetapi berkat uang recehan itu ia mampu menguliahkan anak ke Perguruan Tinggi.

"Alhamdulillah anak sulung saya kini sudah semester 7 jurusan sejarah di UNNES Semarang. Semua biaya kuliah juga dari hasil parkir dan juga kerja istri di Catering milik tetangga," tambah Hadi Utomo.

Bekerja sebagai tukang parkir menurut Hadi membutuhkan kesadaran tersendiri. Tidak semua orang tahu aturan parkir oleh karena itu jika ada yang tidak memberika uang parkir ia tidak memaksakan. Bagitu juga ketika ada yang memberikan uang lebih iapun memberikan uang kembali.

"Aturannya untuk parkir sepeda motor bayarnya Cuma Rp 500. Sedangkan untuk mobil Rp 1.000. Tetapi ada juga yang diberi kembalian namun diberikan kembali . Ya saya terima mungkin ini rezeki lebih saya," kata Hadi Utomo.

Hadi Utomo mengaku kerjanya sebagai tukang parkir di depan Masjid Walisongo Pecangaan legal. Setiap bulan ia menyetor ke dinas perhubungan sebagai kewajiban mengisi kas daerah. Dari sisa setor itulah yang menjadi haknya sebagai tukang parkir. Dari selisih setor ke Dinas perhubungan itulah setiap bulannya ia bisa mencukupi kehidupan harian rumah tangganya.

"Anak saya tiga pak laki-laki semua. Yang nomor dua dan nomor tiga kini duduk di SMA semua. Alhamdulillah anak-anak saya nurut sama orang tua. Itulah yang menjadi tabungan saya kelak. Saya tidak bisa meninggalkan harta hanya ilmu yang mudah-mudahan kelak bermanfaat," urai Pak Hadi.

Selain pak Hadi diseputaran Pecangaan ada beberapa tukang parkir yang mempunyai daerah kerja masing-masing. Dan pak hadi Utomo adalah salah satu potret tukang parkir yang berhasil mendidik anaknya hingga ke perguruan tinggi dari hasil kerja markir.


Artikel ini ditulis oleh : Fatkhul Muin
 
Merdeka.com
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda