Breaking News
Loading...
Rabu, 15 Januari 2014

Info Post
Mesir - Usai shalat Shubuh, saya dan anak saya belanja air dan roti di sekitar komplek. Usai transaksi, mobil polisi lewat dengan sejumlah pasukan. Saya tanya kepada penjaga warung, "Ada apa, kok banyak polisi?" "Oh, mereka mungkin lagi membersihkan tempat. Nanti siang kan referendum." 

"Kamu ikut?" "Tidak ... saya tidak mau menyakiti saudara-saudara yang mati berjuang menentang kudeta militer. Bagi saya, jika ikut serta memberikan suara, sama halnya dengan memberikan restu kepada pembantaian ribuan orang tak berdosa! Menjawab, ya. Berarti saya ikut berlumuran darah. Menjawab tidak, berarti saya ikut merestui nyawa-nyawa tak berdosa melayang." "Subhaanallah .... BaarakaLlaahu Fiik."

Saya tertegun. Anak muda yang hanya sekedar penjaga warung saja memiliki sikap yang jelas dan tegas. Ia bukan seorang sarjana apalagi ulama. Tampangnya boleh jadi bodoh. Namun sikapnya patut dijadikan contoh. Tak perlu berjubah atau berkopiyah, bertasbih atau berjanggut, tanda-tanda dari sikap jelas itu bersumber dari keyakinan mendalam tentang Al-Haq dan Al-Bathil. Sebab tak ada musytabihaat dalam masalah menghilangkan nyawa, apalagi nyawa-nyawa yang dibunuh dengan kejam hanya karena mempertanyakan hak-hak mendasar sebagai manusia; yaitu kemerdekaan.

Jam 10 pagi saya berkesempatan melihat TPS-TPS. Hampir semua TPS di wilayah H-10 sepi. Saya pun beralih ke H-70. Ternyata sepi. Mungkin rakyat Mesir protes dengan memilih mogok tidak memilih. Jalanan pun kosong. Mobil-mobil terparkir. Setelah mencicipi hidangan Harmoni Resto, besutan pengusaha muda dari Pangandaran yang pernah menjadi mahasiswa terbaik Al-Azhar, saya pun terkaget-kaget. Saat ada kiriman foto Da'i kondang Mesir, Ustadz Amru Kholid yang memberikan suara "Ya" atas konstitusi yang oleh Jenderal As-Sisi dijuluki, "Konstitusi yang memanfaatkan kebodohan dan kelengahan rakyat Mesir."

Saya hanya bisa mengelus dada, sembari berucap, "Yu'thil hikmata man yasyaa waman yu'tal hikmata faqad uutiya khairan katsiiraa." Meraih ilmu hikmah itu bukan monopoli seseorang yang bergelar wah, bermobil mewah, atau memiliki jabatan yang superwah. Tidak pula bergelar julukan imam, Kiyai, atau apapun. Hikmah itu Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki. Di sini saya berdoa, "Ya Allah, karuniakan hikmah kepada hamba atas setiap kejadian. Dengan hikmah itu hamba bisa berjalan meraih husnul khotimah. Tidak salah bersikap. Tidak latah berucap. Tidak buta bertaklid. Tidak lancang dalam mengkritik. Karena hamba sadar, kekuatan ulama dengan lisan dan pena tajam. Jika salah memfatwakan, membuat hati-hati umat tersayat kesakitan. Tajamnya mengalahkan peluru yang mematikan. Namun sayatan lisan dan pena tajam, akan menjadi rujukan ratusan generasi yang akan datang."

By: Nandang Burhanudin 
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda