Breaking News
Loading...
Kamis, 13 Februari 2014

Info Post
Silahkan anda berdebat tentang golput haram atau tidak. Bagi saya, pemahaman tentang fiqh maqoshid, fiqh nawazil, fiqh ash-shiroo' sudah cukup menjadi bahan mengapa dari dulu saya tidak pernah Golput. Sejak boleh memilih, saya mencoblos PPP. Hingga akhirnya beberapa kali saya memilih PKS.

Mungkin akan ada yang komen, "Siapa elo? Emang elo penting bangeeddh gitu buat gua?" Jawabannya: saya tidak penting-penting amat. Namun alasan-alasan menolak Golput, mungkin cukuup jadi penjelasan.

Alasan Pertama:
Menentukan calon di Parlemen atau eksekutif, sama dengan melepaskan unek-unek dan energi harapan yang tidak bisa diperjuangkan sendirian atau hanya oleh yayasan.

Terlepas dari plus minus Kang Aher-Om Dedy Mizwar, namun model kepemimpinannya lebih "sejuk" dibanding Jokowi-Ahok. Setidaknya bantuan-bantuan Gubernur untuk pendidikan dan masjid-masjid lebih cepat mengalir. Sedang di era Jokowi-Ahok, sudah sekian masjid yang dihancurkan. Saat khilaf, Kang Aher lebih mudah dikritisi oleh siapapun. Demikian dengan kepemimpinan Kang Ridhwan Kamil-Mang Oded. Karya nyata lebih bisa dirasakan. Minimal adalah penataan kota Bandung yang semrawut dan amburadul, menjadi lebih nyaman dan enak dipandang. Bukankah sisi-sisi positif di atas tidak bisa dilakukan oleh saya sendiri atau oleh yayasan? Belum lagi dana pendidikan gratis untuk SD-SMP-SMA se-Jabar. Apakah itu bisa dilakukan ormas atau partai sendirian? Tentu tidak.
Bayangkan jika kita memilih calon parlemen orang yang kita kenal dan mudah diingatkan! Saya sempat beberapa kali menegur anggota dewan yang keasyikan dengan rutinitas kerja kantoran dibanding dakwah di parlemen dan menjadi advokat bagi kepentingan orang banyak. Saya melakukan itu karena saya ikut memilih! So, wajar jika saya mengingatkan! Namun apakah wajar jika yang Golput, menolak datang ke TPS, lalu mengkampanyekan tidak nyoblos kemudian datang meminta-minta advokasi dari parlemen?

Alasan kedua:
Menentukan pilihan partai dan calon legislatif atau eksekutif, bagi saya mencerminkan tingkat kematangan usia dan pencapaian produktivitas.
Pada kenyataannya, suara-suara golput memang ada dan sah di alam demokrasi. Namun fiqh maslahat (bukan muslihat ya!), harus menjadi ukuran. Di Tunisia, partai An-Nahdhah yang berhaluan Islam (Ikhwanul Muslimin) kini memboikot pemilu. Alasannya karena kaum Liberal-Sekuler-Noni selalu mengganggu pemerintahan yang "sah" dan hasil Pemilu pascarevolusi menumbangkan Zainal Abidin ben Ali. Pemboikotan dilakukan Ikhwanul Muslimin di Mesir, melaui partainya FJP dan juga Hizb Al-Wasath. Seruan golput menjadi penting, karena kezhaliman yang nyata.

Namun di Indonesia, justru sebaliknya. Umat Islam cenderung dibodohkan oleh sistem dan rejim-rejim di masa lalu. Kaum sekuler-liberal-Noni-dan aliran sesat melakukan mobilisasi massa di tempat-tempat ibadat, di kajian-kajian, bahkan di media-media massa yang 98 % dimiliki mereka. Lalu apa yang akan terjadi jika muslim mayoritas Sunni dikomando untuk memboikot Pemilu? Karena ternyata seruan golput justru dilakukan ormas atau orpol yang bukan partai politik resmi (terdaftar dan perserta pemilu). Namun oleh organisasi jalanan yang tidak jelas jenis kelaminnya. Jika di MEsir-Tunisia, kekuatan Golput jelas menjadi tolok ukur dan preasurepower. Sedangkan di Indonesia? Saya yakin, the show must go on. Saat itu, pelaku-pelaku show adalah Noni-Aliran Sesat-Sekuler-Liberal. Lalu setelah dikuasai mereka, kita mau mengadu kemana? Jangan bilang mengadu kepada Allah! Karena kita sendiri tidak sudi menjaga amanah Allah.
Jadi memilih adalah cerminan kematangan dan pencapaian produktivitas kerja dan kinerja. Semakin banyak mengaji semakin anti memberi manfaat, maka dipastikan pengajiannya salah resep atau salah tafsir!

Alasan Ketiga:
Menentukan pilihan di Pemilu adalah cerminan dari internalisasi hubungan baik dengan sesama manusia yang lain.

Kebetulan kawan-kawan dan sahabat-sahabat saya banyak yang mencalonkan diri melalui PKS, maka secara pribadi saya akan menyalurkan suara kepada sahabat-sahabat PKS. Selama PKS ada, saya belum mendapatkan apapun. Termasuk dari Gubernur Jabar. Namun itu bukan alasan saya untuk tidak mendukung. Karena manfaat keberadaan kader-kader PKS yang juga sahabat-sahabat saya, memberikan sumbangsih positif bagi masyarakat yang lain. 

Dengan memberikan 1-5 suara, semoga para pemimpin yang terpilih dari PKS bisa menyampaikan amanat kebermanfaatan bagi seluruh umat. Saya tidak setuju dengan paham yang mudah mengkafir-kafirkan. Karena masalah kafir itu sudah jelas aturannya dari syariat Allah. Terlalu sibuk mengkafirkan orang lain hanya karena beda jalan perjuangan, ujung-ujungnya malah diri sendiri yang kufur nikmat karena minim manfaat.

Ketiga alasan minimal di atas, menjadi penyemangat saya untuk selalu bergerak dan terus bergerak mencari sahabat. Jika mereka terpilih, saya akan tuntut komitmen Cinta-Kerja-Harmoni yang selama ini dikampanyekan. Jika tidak siap, sepatutnya tidak usah kebanyakan gaya ingin menjadi pemimpin publik. 


Ustdz Nandang BUrhanudin
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda