Breaking News
Loading...
Kamis, 14 Februari 2013

Info Post
BOGOR – Ironis. Di tengah upaya pencegahan seks bebas, momentum Valentine’s Day hari ini, justru dimanfaatkan produsen alat kontrasepsi dan minimarket untuk mendongkrak penjualannya. Sedari kemarin, cokelat berhadiah kondom beredar luas di Bogor.
   
Penelusuran Radar Bogor, penjualan cokelat berhadiah kondom tak hanya tidak di apotek dan kios-kios kecil. Tapi juga di toko modern dan minimarket. Seperti yang terdapat di salah satu minimarket di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor. Walhasil, siswa SMP maupun SMA bisa dengan mudah mendapatkannya.
    
Pihak minimarket mengemas coklat bingkisan Valentine itu sedemikian rupa, dan disertakan satu bungkus kondom di bagian luar. Bingkisan coklat berbalut ala valentine itu dijual dengan harga hemat. Namun memang tidak dipajang pada etalase toko. Petugas toko hanya akan mengeluarkannya jika ada pembeli yang bertanya atau pelanggan tetap. Harga paket coklat kondom itu berkisar Rp 18 ribu.
   
“Harganya malah lebih hemat dibanding beli secara terpisah,” aku salah satu kasir, Ir kepada Radar Bogor.
   
Minimarket berwarna biru itu sudah lama menjual paket coklat plus-plus. Karena memang sudah dibingkis secara apik oleh pihak distributor. Ada enam bingkisan yang terdapat di belakang meja kasir. Dalam bingkisan itu ada dua jenis merek terkenal kondom Fiesta dan Sutra dengan harga yang sama.
   
“Untuk harganya disesuaikan dari jenis cokelatnya saja. Kalau kondom itu untuk bonusnya,” terang Ir. Disaat bersamaan, wartawan koran ini melihat salah satu ABG membeli bingkisan untuk "hari kasih sayang" itu. Sedikit tersipu, ia beralasan hendak merayakan malam valentine bersama sang kekasih.

“Buat rayain valentine bareng pacar,” ucapnya tertunduk malu. Mendengar kabar ini, Anggota Dewan Kota Bogor dari fraksi PKS, Ani Sumarni geram. Ia berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa minimarket hari ini.

   
Ani mengecam penjualan coklat dengan bonus kondom. Itu karena sama saja pembiaran seks pranikah. Apalagi pembelinya banyak dari kalangan remaja. Meskipun, lanjutnya, alasan yang dikemukakan adalah untuk menghindari penularan penyakit kelamin dan HIV/AIDS.
   
“Saya setuju sidak besok (hari ini). Tidak boleh asal kasih bonus kondom untuk pembelian coklat. Tidak boleh sembarangan seperti itu,” tegasnya kepada Radar Bogor.
   
Pendapat Ani diamini Penggiat masalah HIV/AIDS Iwan Suryawan. Menurutnya, harus ada regulasi yang jelas mengatur penjualan kondom di supermarket atau pasar bebas. Terkait dengan pemberian kondom dalam program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, itu hanya diberikan kepada kelompok resiko tinggi dan bukan kepada sembarang orang.“Hanya bagi kelompok tertentu. Kelompok dengan resiko tinggi. Tidak pada yang lain,” cetus Pembina Rumah Sahabat ini.

---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda