Breaking News
Loading...
Senin, 21 Oktober 2013

Info Post
Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi ibu Ani Yudhoyono menjadi bahan perbincangan di ranah jejaring sosial. Lewat akun instagram bernama @aniyudhoyono, Ibu Ani membalas komentar salah satu follower bernama @erie­_nya, dengan sebutan “sangat bodoh”. Ternyata, penggunaan sebutan ‘bodoh’ itu mengundang respon keberatan dari follower lainnya.

Berangkat dari kejadian tersebut, kembali mengingatkan kita untuk jangan pernah menggunakan kata atau sebutan negatif terhadap sesama, terutama pada anak. Sebab, dengan rutinitas yang padat, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi mudah ‘tercongkel’ amarahnya menghadapi anak yang sedang berulah atau melakukan kesalahan.


Karena, perkataan orangtua memiliki makna yang dalam pada anak, dan berpotensi meninggalkan kesan buruk terhadap diri mereka. Apabila orangtua tanpa sengaja melontarkan kata ‘bodoh’ pada anak, jangan malu atau gengsi untuk segera meminta maaf pada anak.

“Mengucapkan perkataan yang menyakitan pada anak, pertanda kurang bijaknya kita dalam memanage emosi diri. Selain itu, apa yang Anda ucapkan, itulah yang akan didapatkan. Jadi berhati-hatilah saat menggunakan kata negatif pada anak. Seseorang yang berkata menyakitkan, sebenarnya perkataan itu juga menyakiti diri mereka sendiri’’ jelas Ainy Fauziyah, CPC, Leadership Coach & Motivator, penulis buku laris Dahsyatnya Kemauan. 

Lima orang ibu Indonesia memiliki pandangan yang sama dengan pernyataan di atas. Bagi mereka, melontarkan sebutan negatif akan merugikan tumbuh kembang anak. Mengapa? Karena apapun yang disampaikan oleh ibu sebagai figur otoritas, anak akan menyerapnya sebagai kebenaran.

“Saya tidak mungkinlah sebut anak sendiri bodoh. Bagi seorang ibu, anaknya adalah yang paling hebat. Jadi kalaupun misalnya si anak buat salah, pasti ibunya juga salah mengajarnya. Jadi, bukan karena si anak bodoh’’ – Kerry Nurakhmah, 30 tahun, entrepreneur.

“Saat berkomunikasi dengan anak, saya tidak pernah menggunakan kata ‘bodoh’, sebisa mungkin saya hindari. Karena, kata tersebut memiliki makna yang negatif, dan saya tidak mau itu tertanam di pikiran dan perilaku anak. Misalkan dua putri saya sedang khilaf melakukan kesalahan, saya menanggapinya dengan bertanya, bukan dengan memberikan label buruk pada mereka” - Masfilianda, 30 tahun, ibu rumah tangga.

“Aku rasa nggak ada yah seorang ibu yang tega untuk berkata kasar atau tak baik kepada anaknya. Kalau aku sendiri, tidak akan pernah menyebut anak bodoh. Karena ketika anak melakukan sesuatu lalu berakhir salah, itu artinya ia sedang mencoba dan belajar. Anak yang pintar itu adalah anak yang tidak takut
mencoba. Perkara ia gagal atau berhasil, orangtua harus menghargai usahanya’’ – Astri, 26 tahun, ibu rumah tangga.

“Saya sih tidak bakalan gunain kata bodoh pada putra saya. Kenapa? Karena saya nggak mau anak melihat saya sebagai sosok yang kasar dan jahat, lalu saya juga nggak mau dia berpikir kalau dia bodoh. Nah, melihat ibunya begitu mudah menyebut kata-kata kasar, nanti anak menirunya ke orang lain, yang malu pasti si ibu sendiri. Buat saya anak nggak ada yang bodoh, gimana orangtua mengasuhnya aja’’ – Dhita, 30 tahun, karyawan swasta.

“Menggunakan kata-kata negatif pada anak adalah BIG NO buatku. Misalkan lagi marah sama anak, aku anti menggunakan kata-kata yang akan membuat emosinya tertekan. Dan kata ‘bodoh’ memberikan efek seperti itu pada anak. Biasanya aku ganti dengan yang lebih halus, seperti ‘nggak pinter’, jawaban anakku pasti ‘aku maunya pinter mami’. Nah, baru deh aku kasih tau, kalau mau pintar harus nurut mami, hehehe... “ – Fitriana, 30 tahun, ibu rumah tangga.(kompas/20/10/13) 
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda