Breaking News
Loading...
Sabtu, 28 Desember 2013

Info Post

Jakarta - Kegagalan Satgab Koalisi merealisasi cita – cita poltik presiden SBY, ternyata bukan cuma dikritisi oleh politisi Partai Demorat (PD). 

Akan tetapi mantan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum ternyata sudah banyak catatan kelam mengenai keberadaan koalisi ciptaan SBY itu. 
 
Pukul rata tolok ukur yang dipakai menilai keberadaan Setgab Koalisi adalah kasus pemungutan suara penentuan perpanjangan masa kerja Timwas Century. Seperti diketahui, pada saat berlangsung pemungutan suara yang menentukan perpanjangan masa tugas Tim Pengawas DPR untuk Kasus Bank Century (Timwas Century), Kamis (19/12) menandai semakin memperlihatkan tak kompaknya koalisi partai pendukung Pemerintah. 

Tidak bisa dibantah bahwa diam-diam, Presiden yang juga adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, disebut sudah lama memendam kecewa berat dengan kinerja koalisi itu.

Apa kata Anas Urbaningrum tentang hal tersebut : “Diam-diam dan kadangkala terbuka, Pak SBY kecewa dengan koalisi politik yang dibangun pada 2009,” kata mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Kamis malam (26/12/).  

Di lingkungan internal partai, ujar dia, kekecewaan kepada partai koalisi terutama Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera sudah sering diungkapkan SBY. 

Sepanjang Kamis malam hingga Jumat (27/12/2013), Anas menulis kultwit panjang seputar dinamika politik nasional, terutama terkait dengan bekas partainya itu. Kultwit itu menggunakan hashtag #cawapressby. 

Anas mengatakan sejak awal skandal Bank Century merupakan bentuk inkonsistensi koalisi bila dilihat dari sudut pandang SBY. Inisiator Pansus Century, panitia khusus yang dibentuk di DPR khusus dan mengawali terkuaknya skandal dana talangan itu, sebagian adalah anggota DPR dari koalisi dan sebagian yang lain dari partai non-koalisi. 

“Koalisi sudah ‘terluka’ di usia yang sangat muda, di awal kerja sama pemerintahan periode 2009-2014,” ujar Anas. SBY pun kemudian berupaya keras melakukan konsolidasi koalisi, kata dia, sebagai hal yang memang harus dilakukan. 

Di internal Partai Demokrat, lanjut Anas, pernah ada ide untuk merampingkan koalisi. “Ramping tapi sehat dan konsisten, daripada besar tapi tak solid.” Namun, kata Anas, SBY tak mau ambil risiko. “Koalisi tetap dipertahankan meski dengan hati yang ‘terluka’.” 
 
Wujud dari konsolidasi tanpa tindakan ambil risiko itulah, sebut Anas, yang kemudian menjadi cikal bakal Sekretariat Gabungan. “Tempat berhimpun partai-partai koalisi.” 

Setgab dikomandani langsung oleh SBY, dengan Ketua Harian dipercayakan pada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, dan kantor merupakan “pinjaman” Djan Farid dari Partai Persatuan Pembangunan. 

Menurut Anas, skenario awal yang dibangun Setgab bukan upaya penyeragaman koalisi. Identitas partai yang beraga tetap dipertahankan tetapi harus sama dan bersatu untuk hal-hal strategis. Mula-mula, tutur Anas, Setgab berjalan baik, rajin rapat, dan komunikasi politik pun berjalan lumayan intensif. 

“Tetapi lama-lama Setgab tetap kelihatan sebagai koalisi pelangi yang nyata. Puncaknya ketika voting interpelasi pajak,” sebut Anas. Saat itu, Partai Demokrat masih bisa menang tipis meski tak didukung Partai Golkar dan PKS. 

Struktur koalisi pun lalu diperbaiki lagi. Kali ini, kata Anas, ada penguatan komitmen dengan label penandatanganan “code of conduct”. Kabinet pun dikonsolidasi ulang, dengan mengurangi jatah kursi menteri PKS. “Meskipun pengurangan juga dilakukan untuk Demokrat. Getir bagi Demokrat.” 

Sayangnya, koalisi tetap saja tak solid. “Yang paling baru (buktinya) adalah ketika DPR voting tentang Timwas Century,” tegas dia. Kali ini, Demokrat tumbang. Hasil voting menyatakan masa kerja Timwas Century diperpanjang, tak sesuai dengan keinginan Partai Demokrat 

Pernyataan kekecewaan terhadap kinerja Sergab Koalisi, yang sangat jauh dari harapan SBY juga sudah dikritisi secara terbuka oleh petinggi PD. Dikatakan parpol yang paling banyak “melarikan” diri adalah PKS dan Golkar. Tapi, publik mencatat adalah Partai Golkar  yang dipimpin Aburizal Bakrie paling tidak loyal, tapi paling banyak mendapat manfaat. 

Terutama dalam hal penyelesaian ganti rugi untuk korban luapan lumpur Lapinda. Dengan permainan yang sangat lihai,kasus itu dibungkus sebagai peristiwa “bencana alam”.   Golkar akhirnya bisa membuat SBY terpukau. Voting di DPR sukses  dan membuat pemerintah menyetujui ganti rugi yang trilunan jumlahnya dibayar oleh negara melalui APBN.

Sumber: baratamedia
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda