Breaking News
Loading...
Selasa, 18 Februari 2014

Info Post

Rasa gemetar serentak terasa, sesaat memasuki galeri. Puluhan foto hitam putih tercetak dalam bingkai putih. Tembok ruangan tertutup raut-raut wajah kamu muslim rohingya. Dari sebuah foto terlihat anak dalam pelukan seorang ibu yang bersimpuh di trotoar jalan. Dalam bingkai lain, sorot mata pria bejenggot putih, memperlihatkan wajah yang lelah dengan sedikit harapan untuk bertahan.

Di dalam ruangan persegi.  Foto-foto tertempel mengelilingi tembok tebal. Lampu redup tak begitu menyala, membuat rasa iba semakin bertambah. Melihat gambaran kaum rohingya yang tertindas negerinya sendiri.

Sosok pria yang menjadi buruh di sebuah pantai. Para ibu menggendong bayi untuk meminta sedekah. Atau tempat pengungsian yang hanya terbuat dari ranting dan sampah plastik. Itu semua tergambar dalam satu tragedi berkepanjangan. Tragedi komunitas Muslim Rohingya.

Itulah sekilas gambaran foto hasil jepretan Greg Constantine. Pria berkebangsaan Amerika ini memilih tragedi yang menimpa kaum Rohingya di Burma, sebagai salah satu bahan projectnya. Sambil menikmati secangkir lemon tea Greg menceritakan sedikit alasannya mengapa memilih tragedi keagamaan atas kaum Rohingya dalam karya fotonya.

Sejak tahun 1784 ,  kaum Arakan (Islam) dijajah oleh Raja Buddha Burma (Budabay), mereka memasukkan Arakan ke wilayah Burma karena takut penyebaran Islam semakin meluas. Setelah datangnya rezim Jendral Newin pada tahun 1962 . Perlakuan lebih sadis semakin banyak terjadi.

Para Muslim kembali menjadi korban penindasan, pengusiran, pembunuhan dan penghilangan identitas kewarganegaraan bagi mereka. Selain kepada para kaumnya, rezim ini pun menghancurkan bangunan bangunan Islam dan peninggalan sejarah yang mereka miliki.

Tahun demi tahun setelah munculnya Rezim ini komunitas rohingya terus mengalami kehidupan yang sangat sulit. Pada tahun 1978 , lebih dari 500 ribu muslim mengalami penderitaan. Dan disesalkan sekitar 40.00 warga yang terdiri dari anak-anak, wanita dan kalangan orang tua meninggal dunia.

Tahun 1991 ratusan ribu orang diusir dari wilayah Burma. Tanpa kejelasan yang pasti akhirnya mereka mendirikan sebuah perkampungan di wilayah Bangladesh Selatan yang berbatasan langsung dengan Burma Barat (sekarang Myanmar).

Sampai tahun 2012 kejadian tragis ini masih harus dirasakan kaum Rohingya. 10 kaum Muslim Rohingya dikabarkan meninggal dunia yang diakibatkan konflik berkepanjangan.

Tragedi inilah yang menjadi sorotan tajam  Greg Constantine. Pelanggaran terhadap kaum Rohingya menurut Greg merupakan pelanggaran HAM yang sangat berat, terutama di kawasan Asia.

Mengambil judul “Exiled To Nowhere (Burma’s Rohingya)". Greg mencoba mengangkat tema warga negara yang terbuang tanpa kewarganegaraan. Sejak tahun 2006 sampai 2012 dia melakukan perjalanan untuk mencari sudut pandang penindasan kaum Rohingya.

Greg menuturkan, saat ini tragedi kaum Rohingya sedikit-sedikit mulai dilupakan oleh masyrakat luas, khususnya sekitar Asia. Padahal menurut Greg, kaum Rohingya adalah etnis yang serumpun dengan masyarakat Asia Tenggara.

Banyaknya negara Asia tenggara yang menolak kehadiran para Imigran Rohingya oleh negara-negara Asia tenggara sangat disayangkan oleh Greg. Pasalnya, Greg menilai para kaum minoritas Rohingya meninggalkan negaranya bukan tanpa alasan. Penindasan terhadap kaum merek, serta ketidakpastian  hidup di negara sendiri,  membuat mereka memilih untuk pergi ke negara tetangga.

“Orang kehilangan harapan hidup,” tegas Greg. Setelah perjalanan yang panjang meliput tragedi ini. Greg berharap agar setiap orang, setiap negara mau untuk membantu mereka mendapatkan harapan untuk hidup lebih layak dari sekarang.

Satu alasan terakhir yang disampaikan Greg. Dengan adanya pameran dia di Indonesia khususnya di Jakarta. Greg melihat bila di Jakarta terdapat banyak suku banyak etnis dari berbagi negara di Asia. Dia berharap banyak media yang memublikasikan pameran ini, ditambah diskusi-diskusi yang dilakukan masyarakat maupun pemerintahan. Mampu menjadikan masyarakat dan pemerintah, kembali memberikan perhatian kepada kaum Rohingnya.

Bukan saja dalam hal perhatian dalam perkataan, tapi perhatian dalam aksi nyata lebih diharapkan. Sehingga  memberikan  penghidupan yang layak bagi kaum Rohingya yang terbuang di negaranya sendiri.[republika/mhm/islamedia]
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda