Breaking News
Loading...
Kamis, 27 November 2014

Info Post
Jakarta dikala senja
By: Nandang Burhanudin


Kemarin sore, sekira ba'da Maghrib, saya berangkat ke Jakarta untuk suatu kebutuhan. Ongkos Primajasa Ekonomi tasik-Jakarta, naik dari 45.000 ke 60.000. Saya sendiri membayar 38.000 dari biasa 30.000. Ongkos yang baru saja naik dari sebelumnya 26.000. 

Sepanjang perjalanan saya manfaatkan untuk istirahat. Plus tentunya sekedar merenung, betapa negeri ini tanpa sadar dikuasai "ketidakpatuhan" dari level tertinggi elit politik hingga level terendah masyarakat alit. 

Ya. Mirip bus AC Primajasa. Sopir+kernet plus penumpang sama-sama merokok. Padahal larangan merokok sangat jelas. Mereka sama sekali tak peduli dengan kondisi sesak nafas seluruh penumpang. Ironisnya, saat diingatkan malah balik emosi dan ngeles 1001 alasan. Seakan merokok di ruang ber-AC adalah sah. Selama pelakunya adalah sopir dan kernet bis. Ditambah dukungan massa "penumpang" yang nampak euforia kebebasan. 

Ya. Sungguh fenomena yang sangat mirip dengan negeri ini. Pelanggaran menaikkan BBM dan tindakan aparat yang represif terhadap demonstran, dialihkan dengan berita Lurah Jok GOndok yang berangkat ke negeri Jiran menggunakan pesawat ekonomi. Supaya lebih dramatis. Dihadirkan peristiwa bentrok antara aparat Brimob dan tNI di Batam. Padahal ki Lurah Jok Gondok sudah melakukan kesalahan konstitusional, menaikkan harga hajat orang banyak tanpa persetujuan Dewan Permusyawaratan yang sah. 

Seperti halnya penumpang bis tadi. Semua sibuk euforia kebebasan. tanpa pernah sadar, merokok apalagi di ruangan ber-AC adalah kejahatan dan merusak diri plus menghancurkan orang lain. Namun semua berpesta pora. Padahal rokok yang didapat tidak gratisan tentunya! 

Inginnya saya keluar dan berganti bus. Ada memang bus Budiman dengan ongkos Flat. Namun bus Budiman yang relatif aman dari rokok dan lebih tertib (tidak menaik-turunkan penumpang di tol), kedatangannya tidak jelas. Mirip merindukan khilafah, tapi tak bisa mengandalkan dari perjuangan yang tidak jelas kapan datangnya! Sambil komplain ke perusahaan PO, saya pun terpaksa pulang dengan bus yang sama. Seperti hidup di Indonesia, walaupun presidennya seberkualitas Sopir!
---
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda