Breaking News
Loading...
Senin, 12 Agustus 2013

Info Post
Jujur, AS dan sekutu Arab-nya telah sukses mengaborsi kelahiran lanjutan revolusi di negara-negara Arab dan mengembalikan diktator dengan wajah baru ke tampuk kekuasaan. Diktatorisme baik yang dilakukan militer, sipil, rasisme, atau fanatisme kekabilahan.
Di Yaman, laju revolusi terhenti. Yaman menjadi terminal terakhir, karena efek revolusi ditakutkan merambah semenanjung Arab yang dihuni negara-negara Saudi-Emirat Arab-Bahrain-Oman-Kuwait-Qatar. Di Jordania benih-benih revolusi sudah dimatikan sejak dini. Sedangkan di Syiria-Iraq-dan wilayah Syam, revolusi mati suri. Untuk wilayah Maghribi yang mencakup Libya-Tunisia-Aljazair-Maroko-Mauritania, revolusi itu dibonsai sedemikian rupa.

Melihat hasil revolusi negara-negara Arab, tak ada yang signifikan berpihak kepada rakyat Arab. Malah yang terjadi adalah sebaliknya;

1. Hancurnya kekuatan militer di Irak-Mesir-Syiria, dan kemungkinan susah dibangkitkan lagi.

2. Terpecah belahnya masyarakat Arab ke dalam kelompok-kelompok ideologis yang destruktif. Dominasi Syi'ah di Syiria-Irak-Libanon, menelan korban pembantaian kelompok Sunni.

3. Dikuasainya ladang-ladang minyak oleh Barat.

4. Penempatan tentara AS di Saudi Arabia dan beberapa negara Teluk, yang menggerus devisa dan sumber dana hingga mengurangi "jatah" kesejahteraan rakyat.

Apakah Israel Menjadi Dominan?

Namun demikian, carut marut yang terjadi di negara-negara Arab, ternyata tidak membuat Israel aman dan dominan. Hegemoni AS-Eropa-Israel "terbentur" soliditas dan kekuatan akidah umat Islam di negara-negara Arab. Hal yang membuat AS harus berjibaku menggelontorkan dana rampasan, untuk menjaga "wibawa" dan stabilitas regional.

Benturan terbesar adalah dari Ikhwanul Muslimin, jamaah Islam modern yang fikrohnya menjalar luas di wilayah-wilayah Arab. Munculnya gerakan Al-Qaeda 20 Tahun lalu di Sudan, yang kemudian menjadikan Afghanistan sebagai medan jihad. Plus gerakan Jihadi di Mesir, membuat AS-Eropa-Israel ketar-ketir. AS dan sekutunya mulai paham, mengangkangi militer ternyata sangat mudah. Namun saat itulah, gerakan perlawanan rakyat bermunculan. Hal yang sangat menyulitkan AS mengontrol keadaan.

Tengoklah kasus Irak. Sukses menginvasi, ternyata tidak diiringi kesuksesan menghentikan perlawanan generasi kedua dari panji Jihad. Tentara Iraq memang "tidak melakukan perlawanan" saat diserang. Namun setelah 10 tahun invasi, Iraq malah di luar kendali dan kontrol AS. Sudah bermilyar-milyar dollar AS mencoba melunakkan mujahidin, malah sebaliknya tentara AS yang tewas lebih banyak dibandingkan saat perang Irak itu sendiri.

Hal yang sama dengan posisi Yaman. Rezim Abdullah Shalih dipertahankan, kendati dengan menunjuk wakilnya. Perlawanan Jihadis, malah makin gencar. Sebagaimana di Syiria, Libya, Al-Jazair, Tunisia, makin hari semakin menjadi area Jihad mujahidin yang kerap dijuluki Al-Qaeda.

Oleh karena itu, untuk kasus Mesir. AS yang sedari awal "terkagetkan" dengan sikap Presiden Moursi. Seorang insinyur, bukan dari latarbelakang pendidikan agama. Sekian lama menimba ilmu di AS. Moursi "direstui" untuk menggantikan Khairat Syatir, seorang dokter yang secara resmi menjadi Wakil Mursyid Ikhwanul Muslimin. Namun sikap Moursi sungguh mencengangkan; melawan AS dengan langkah kongkrit pemberdayaan SDM muda Mesir, independensi militer, swasembada pangan, dan koneksitas lintas Blok dengan negara-negara yang bersaing dengan AS.

Maka AS berpikir untuk "melengserkan" Moursi. Skenario awal adalah, mengulang pelengseran Mubarak. Elemen-elemen negara pun dikerahkan; Kepolisian-Militer-Kehakiman-Kejaksaan-hingga Media dan lembaga keagamaan. Namun As-Sisi nampaknya terlalu percaya diri. Maka terjadilah kudeta militer. AS nampak malu-malu. Sikap AS dan kaum sekuler-liberal menampakkan belangnya. AS dan Eropa baru bisa mengatakan penggulingan Moursi oleh militer sebagai kudeta, persis 1 bulan setelah kudeta itu terjadi.

Ternyata, sikap AS itu pun dibenturkan dengan soliditas proMoursi yang digalang Ikhwanul Muslimin dan partai FJP yang berafiliasi ke IM. Kekompakan mafia kudeta militer (donatur Teluk-Partai An-Nur-Kristen Koptik-AlAzhar) seperti jaring laba-laba; rapuh mudah dipatahkan kepentingan. Perpecahan itu pun terpolarisasi ke dalam empat perbedaan tajam:

1. Militer, bernafsu menjadi the real ruler di Mesir yang baru. Maka semua lembaga negara diganti. Baru ada sejarah, Presiden dan PM dipilih oleh Menhankam/Panglima AB. Konstitusi hasil amandemen dibekukan dan lembaga-lembaga Negara dibubarkan. Mesir menjadi negara tak memiliki sistem.

2. Poin pertama, ditentang ElBaradai yang juga bernafsu menjadi the rising man. Ia sejak awal anti pemerintahan militer. Baginya militer harus dibawah kendali sipil. Namun posisinya yang Syi'ah dan track recordnya sebagai "jongos Yahudi", menjadi penghalang hingga ia pun terpaksa tunduk pada kekuasaan militer yang tak terbatas.

3. Lembaga Keagamaan, Al-Azhar yang diwakili Grand Syaikh Prof. Dr. Ahmad Thayyib dan Kristen Koptik diwakili Theodorus II, pun sama-sama kesulitan menemukan titik temu. Grand Syaikh Al-Azhar tidak mungkin menyetujui perubahan preambule konstitusi, dimana Kristen Koptik menuntut perubahan Agama Negara, tidak lagi Islam. Di sisi lain, UU yang diajukan militer malah lebih "merugikan" minoritas Koptik dibanding dengan UU yang disahkan oleh Presiden Moursi yang benar-benar terbuka dan adil, memberi hak masing-masing secara proporsional.

4. Kelompok Jihadis, yang tidak berafiliasi kepada IM atau organisasi manapun. Mereka mendukung Moursi karena visi keislamannya yang visioner, hafal Al-Qur'an, dan membuka kran kebebasan beragama seluas-luasnya. Kelompok Jihadis ini memiliki kurang lebih 11-15 ribu mujahidin bersenjata dan siap tempur. Mereka masih wait and see. Menunggu sikap militer, apakah akan memberangus dan membantai demonstran proMoursi atau sebaliknya militer bersikap proaktif dan memilih mengorbankan As-Sisi.

AS-Barat-Israel kini paham. Lebih mudah menjalin komunikasi dengan Moursi dan IM. Mereka membayangkan, jika AS-Barat-Israel mendukung As-Sisi secara membabi buta, maka militer Mesir dan kaum sekuler-liberal tidak akan mampu menjinakkan kelompok Jihadis. Mesir akan menjadi Irak kedua bagi AS, bahkan Syiria kedua. Otomatis, ancaman Israel bukan lagi sosok yang siap diajak dialog, tapi siap tempur. Hal mana jika kondisi chaos terjadi, saya meyakini, Ikhwanul Muslimin pun akan memilih revolusi Islam total.

Maka di sini AS, terpaksa mengakui perbuatan As-Sisi sebagai kudeta. Bukan karena ingin membela proMoursi atau IM. Tapi lebih karena ingin menyelamatkan Israel dari ancaman Jihadis, sekaligus membatasi IM agar mengurungkan niatnya "terjun" ke medan Jihad bersenjata.

Sekali lagi, AS-Eropa seperti memakan buah simalakama. Ibarat melempar bumerang, toch akhirnya menyayat badan sendiri. Maka media-media AS dan apara analis di Inggris, merekomendasikan untuk mengembalikan Moursi ke tampuk kekuasaan. Sayangnya Moursi dan IM sudah memiliki sikap sendiri. Terbukti dari para qiyadah IM yang menolak bertemu dengan utusan AS dan Eropa. Karena bagi Moursi dan IM, tak ada kata kalah membela Al-Haq; Mati menemui syahid. Menang hidup mulia.
By: Nandang Burhanudin, 12/8/13; 12:05 
Komentar anda

0 komentar:

Posting Komentar

PENGUNJUNG YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda